Pelestarian Ritual Budaya Mandi Safar Bagi Masyarakat yang Ada di Desa Buata Kecamatan Atonggola Kabupaten Gorontalo Utara

Authors

  • Rifaldo Pido Universitas Gorontalo, Indonesia
  • Deys Rizkiyani Puluhulawa Universitas Gorontalo, Indonesia
  • Elsa Risti Hamzah Universitas Gorontalo, Indonesia
  • Febi Febi Universitas Gorontalo, Indonesia
  • Indriyani Tobi Universitas Gorontalo, Indonesia
  • Indrawati Hintalo Universitas Gorontalo, Indonesia
  • Jeremy Moh Ilolu Universitas Gorontalo, Indonesia
  • Mirlan Husain Universitas Gorontalo, Indonesia
  • Mohamad Taufik A Daud Universitas Gorontalo, Indonesia
  • Moh Zidan Mamonto Universitas Gorontalo, Indonesia
  • Rosalina Mandagi Universitas Gorontalo, Indonesia
  • Sri Novisa Djura Universitas Gorontalo, Indonesia
  • Sri Nurhayati Arapa Universitas Gorontalo, Indonesia

Keywords:

Kerajaan Atinggola, Buata, Mandi Safar

Abstract

Kebudayaan dianut oleh masyarakat beranekaragam tersebar di seluruh wilayah nusantara salah satunya terdapat di Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo. Desa Buata yang terdiri dari kawasan wisata Desa Buata adalah salah satu desa di Kabupaten Gorontalo Utara yang rutin melaksanakan kegiatan Mandi Shafar setiap tahunnya. Tradisi Mandi Shafar ini merupakan tradisi warisan yang nenek moyang penduduk asli Desa Buata bagian dari suku Gorontalo. Mandi Shafar ini dilaksanakan di dua tempat yaitu untuk ritual tradisional di pusat kan di hulu sungai Andagile (Desa Buata) sementara untuk ritual mandi Shafar Nasional di tempatkan di muara Sungai Andagile. Tradisi Mandi Safar mempunyai pro dan kontra dilihat dari segi agama Islam persepsi masyarakat terhadap Mandi Safar dan pelaksanaannya ada beberapa masyarakat menganggap bahwa mandi safar tersebut merupakan takhayul atau syirik. Tujuan dari pada pengabdian ini yaitu, 1) Untuk mengetahui bagaimana prosesi budaya mandi Safar, 2) Untuk mengetahui manfaat dari mandi Safar. Metode yang digunakan yaitu kualitatif Deskriptif yaitu melakukan observasi kemudian wawancara secara mendalam. Populasi yang di ambil pada pengabdian ini yaitu masyarakat desa Buata, sampel yaitu berjumlah 25 responden.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Amalia, N.A. & Agustin, D. (2022). PERANAN PUSAT SENI DAN BUDAYA SEBAGAI BENTUK UPAYA PELESTARIAN BUDAYA LOKAL. Arsitektur, 09, p. 34.

Hakeu, F. and Sunarti, S. (2019). IMPELEMENTASI KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH KAB. GORONTALO UTARA TERHADAP WISATA MANDI SAFAR. 2(2), pp. 1–17.

Hasanah, R. and Tukwain, S.M.F. (2021). Analisis Tradisi dalam Pesan Dakwah Budaya Mandi Safar pada Masyarakat Muslim Seram Bagian Timur. Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah, 20(2). https://doi.org/10.18592/alhadharah.v20i2.5682.

Ihsan, R. (2022). Pertunjukan Budaya : Ritual Mandi Safar Etnis Melayu Kampung Terih Nongsa Kota Batam. Representasi: Jurnal Ilmu Sosial, Seni,Desain, dan Media, 1(3), 37–44.

Syaiful, S. et al. (2023). Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Mandi Safar Sebagai Daya Tarik Wisata Dudaya Di Tanjung Punak Rupat Utara Kabupaten Bengkalis. INTELEKTIVA: Jurnal Ekonomi, Sosial Dan Humaniora, 4(6), 13–32. https://jurnalintelektiva.com/index.php/jurnal/article/view/931.

Downloads

Published

2024-11-06

How to Cite

Pido, R., Puluhulawa, D. R., Hamzah, E. R., Febi, F., Tobi, I., Hintalo, I., Ilolu, J. M., Husain, M., Daud, M. T. A., Mamonto, M. Z., Mandagi, R., Djura, S. N., & Arapa, S. N. (2024). Pelestarian Ritual Budaya Mandi Safar Bagi Masyarakat yang Ada di Desa Buata Kecamatan Atonggola Kabupaten Gorontalo Utara . SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(11), 754–761. Retrieved from https://ejournal.45mataram.or.id/index.php/swarna/article/view/1535